KOTA TANGERANG – Warga di Cibodas, Kota Tangerang, sudah berada di titik jenuh. Setelah 2–3 minggu air bersih mati, mereka tetap dibebani tagihan hingga Rp500 ribu.
Nasrudin, bersama beberapa warga terdampak, mengaku muak dengan pelayanan Perumda Tirta Benteng (TB) dan berencana bertamu langsung ke rumah Walikota Tangerang, Sachrudin, Jumat pagi sebelum berangkat kerja.
Nasrudin menuturkan bahwa frustrasi warga sudah mencapai puncaknya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Air mati berminggu-minggu, tagihan tetap besar, bantuan dari PDAM dikirim sedikit dan tidak merata. Kami sudah capek menunggu!”
Ia menambahkan bahwa warga merasa tidak dihargai sebagai pelanggan dan warga kota.
“Kami bayar tagihan tepat waktu, tapi layanan dasar saja tidak bisa dijalankan. Anak-anak kesulitan mandi, rumah tangga terganggu. Rasanya seperti dibohongi!”
Menurut Nasrudin, janji Perumda TB soal pelayanan optimal belum terealisasi sama sekali.
“Setiap ada gangguan, mereka bilang ‘kami berusaha optimal’. Tapi mana buktinya? Air tetap mati, bantuan dikit-dikit, dan tagihan tetap gede!”
Ia menegaskan bahwa langkah warga sudah bulat. “Jumat ini, setelah shalat Subuh, saya dan beberapa warga akan berangkat langsung ke rumah Walikota di Cipondoh. Kami ingin suara kami didengar! Ini mah kebutuhan pokok, bukan lagi masalah tagihan!”
Warga lainnya dari Perum 2 Cibodas, Jalan Air PDAM, menambahkan bahwa situasi mereka bahkan lebih parah. Air belum mengalir sama sekali hingga saat ini, sehingga kebutuhan sederhana seperti mandi pun menjadi sulit, apalagi cebok.
“Mau mandi saja susah, apalagi cebok. Sangat sulit. PDAM terkait kok tidak kelar-kelar sampai sekarang? Bagaimana dong?” keluh salah seorang warga.
Marni, warga lain di Cibodas, menambahkan bahwa aliran air sejak seminggu terakhir selalu kecil, terutama saat jam sibuk pagi hari. Menurutnya, kondisi ini terjadi di seluruh daerahnya.
“Air dari seminggu yang lalu selalu kecil alirannya. Semua di daerah saya begitu juga. Apalagi kalau jam 7 pagi, air hampir tidak mengalir sama sekali. Hal ini sudah terjadi dari awal mati total sampai sekarang belum normal. Sebelumnya aman-aman saja,” ujar Marni.
Sementara itu, Humas Perumda TB, Arini Maulia, menjelaskan bahwa gangguan terjadi saat peralihan pengelolaan dari Perumdam Kabupaten Tangerang ke Perumda TB pada Januari lalu.
Ia menyatakan pihaknya siap membantu pelanggan terkait tagihan dan menyesuaikannya berdasarkan pemakaian air, meski menekankan perlunya data pasti mengenai waktu gangguan.
“Kalau ada pengaduan tagihan besar, kami bisa cek di kantor. Selama pembayaran tepat waktu, tagihan akan disesuaikan dengan jumlah air yang digunakan. Tapi kami perlu tahu kapan aliran air mati selama 2–3 minggu itu,” ujar Arini.[man]









