CIBODAS, KOTA TANGERANG – Warga di wilayah Cibodas, Kota Tangerang, tengah menghadapi krisis air bersih yang berlangsung 2–3 minggu. Meski kebutuhan pokok sehari-hari terganggu, Perumda Tirta Benteng (TB) tetap membebankan tagihan hingga Rp500 ribu kepada pelanggan terdampak, memicu kemarahan dan frustrasi publik.
Arin , Humas Perumda TB, mengakui gangguan terjadi saat peralihan pengelolaan dari Perumdam Kabupaten Tangerang ke Perumda TB pada Januari lalu.
Ia mengatakan pihaknya siap membantu pelanggan terkait tagihan dan menyesuaikannya berdasarkan pemakaian air, namun menekankan perlunya data jelas mengenai waktu gangguan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ada pengaduan tagihan besar, kami bisa bantu cek di kantor. Selama pembayaran tepat waktu, tagihan akan disesuaikan dengan jumlah air yang digunakan. Tapi kami perlu tahu kapan aliran air mati selama 2–3 minggu itu,” ujar Arin melalui pesan singkatnya Rabu (11/2/2026).
Arini menambahkan bahwa Perumda TB telah berupaya memberikan bantuan pengiriman air gratis dan berkoordinasi dengan RT/RW serta dinas terkait untuk memastikan warga terdampak mendapatkan pelayanan.
“Kami berusaha bekerja sama dengan warga dan tokoh masyarakat agar pelayanan tetap optimal,” tambahnya.
Seorang warga mengaku frustrasi membatah keterangan Arin, hal itu lantaran kenyataan di lapangan berbeda. Banyak warga di Cibodas menilai bantuan ini tidak memadai dan distribusinya tidak merata. :
“Air mati berminggu-minggu, tapi tagihan tetap besar. Bantuan dikirim sedikit dan tidak merata. Rasanya seperti dibohongi,” keluh Nasrudin.
Keluhan serupa muncul dari berbagai RT dan RW di wilayah terdampak. Banyak warga menekankan bahwa janji Perumda TB soal pelayanan optimal belum terlihat hasil nyata, sementara mereka tetap harus membayar tagihan yang membengkak meski tidak menikmati layanan.
Gangguan ini, Kata Nasrudin adalah kegagalan manajemen Perumda TB dalam menghadapi situasi kritis. Komunikasi yang buruk, distribusi air lambat, dan janji-janji tanpa tindakan nyata membuat kepercayaan warga menurun drastis.
“Kita menuntut penghapusan tagihan tidak wajar, distribusi air yang merata, serta transparansi penuh dari Perumda TB agar masalah serupa tidak terulang,” ungkap Nasrudin.
Situasi ini, kata Nasrudin menjadi tanda retorika dan janji kosong tidak cukup ketika kebutuhan dasar warga terganggu.
“dengan kebutuhan pokok terganggu dan tagihan tetap membebani, banyak warga di Cibodas merasa posisi kami diabaikan,” Kata Nasrudin.[man]









